Bertempat di ruang Hening Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menerima pelaporan Korps Kenaikan Pangkat dari Dankorpaskhas Marsda TNI M. Harpin Ondeh S.H. dan 15 Pati dari TNI AD dan TNI AL, baru-baru ini.

Dalam sambutannya Panglima TNI menyampaikan bahwa kenaikan pangkat ini, sebagai suatu kepercayaan Negara kepada para Perwira Tinggi. Kepercayaan tersebut adalah konsekuensi yang harus ditunaikan dengan semangat, untuk berbuat yang terbaik, bermodalkan integritas kepemimpinan dan kompetensi bagi kepentingan kemajuan TNI, sekaligus sebagai wujud pertangungjawaban kepada TNI, Negara, dan Tuhan Yang Maha Esa, atas amanah kenaikan pangkat, yang disandang oleh para Perwira sekalian.

Panglima TNI juga mengingatkan kembali kepada para Perwira adalah pemimpin, yang secara simultan memiliki tugas, peran, keterampilan, perspektif dan ukuran keberhasilan, yang berbeda dengan manajer.  Manajer bukan pemimpin, tetapi pemimpin memiliki kemampuan manajerial, yang harus memiliki empat keseimbangan, yaitu : Pertama, pemimpin harus memiliki kemampuan dan kemauan berkomunikasi untuk menyampaikan petunjuk perencanaan dan segala informasi yang memiliki relevansi terhadap tugas kepada satuan dan seluruh prajuritnya.

Kedua, pemimpin harus memiliki kemampuan memanfaatkan lingkungan eksternal, menciptakan kondisi, mengkondisikan kondisi dan memanfaatkan kondisi bagi keberhasilan organisasi. Ketiga, pemimpin harus memiliki kemampuan untuk membentuk dan mempengaruhi semua aspek operasional satuan atau organisasi. Keempat, pemimpin harus cerdas dan cerdik dalam mengantisipasi setiap perubahan masa depan, dengan menyiapkan segala perkiraan keadaan dan perkembangan.

Diakhir amanatnya Panglima TNI juga menegaskan secara ringkas bahwa empat kesimbangan tersebut merupakan upaya bagaimana seorang pemimpin mengendalikan konteks, bukan tergantung pada konteks. Dengan demikian ironi apabila terdapat prajurit yang dalam kepemimpinannya tidak memahami setiap informasi, terlebih tidak memahami kebijakan Pemimpin Tertinggi TNI. Ketidakpahaman tersebut bukan sepenuhnya karena apatisme prajurit, namun yang terbesar adalah karena kita belum memiliki secara lengkap dari empat kesimbangan kepemimpinan, dalam konteks para Perwira sebagai pemimpin, guna memperbesar pengaruh positif untuk berinovasi terhadap setiap kebijakan Pimpinan TNI, sekaligus sebagai manajer dalam rangka merumuskan kebijakan, sesuai peran, fungsi, dan tugas satuan.

Hadir pula pada acara tersebut Kasal Laksamana TNI DR. Marsetio, Kasau Marsekal TNI I.B. Putu Dunia, Wakasad Letjen TNI M. Munir, para Asisten Panglima TNI, dan segenap Kabalakpus Mabes TNI serta Angkatan.