Bandung, Sabtu (9/03). Posisi strategis sebagai jalur lalu lintas internasional dan batas-batas wilayah dengan negara tetangga yang belum jelas, dapat menjadi alasan bagi negara tetangga untuk menggerakkan kekuatan udaranya mengganggu ketenangan Indonesia. Hal ini akan terjadi apabila kita tidak mempunyai kemampuan yang memadai untuk menghalaunya. Akhirnya akan muncul ketidakharmonisan dengan sesama negara tetangga, bahkan tidak tertutup kemungkinan menjadi konflik berkepanjangan.

     Hal tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI I. B. Putu Dunia dalam ceramahnya pada acara Penataran Kader Organisasi Tingkat Purna (Tarkorna) Angkatan XIII Generasi Muda FKPPI dengan judul “Pemberdayaan Kekuatan TNI AU Menjadi Kekuatan Bangsa”, yang dilaksanakan di Wing III Paskhas, Lanud Sulaiman,

     Menurut Kasau, Kemampuan dari Air Power, tidak hanya dimanfaatkan untuk melumpuhkan musuh dalam waktu singkat pada saat perang tetapi juga dapat dimanfaatkan pada saat damai. Peran Air Power saat damai diantaranya dapat digunakan melaksanakan pengamatan di wilayah ZEE untuk melaksanakan pengamatan lalu lintas maritim pada posisi-posisi penting, pengendalian fungsi lingkungan, SAR, mencegah penyelundupan, mencegah pembalakan hutan, mencegah pencurian ikan di laut, mendeteksi pemberontakan bersenjata.

     Setiap negara berkeyakinan, dengan kekuatan udara yang andal wilayahnya akan aman dan diperhitungkan oleh negara lain, jika terjadi suatu konflik. Sehingga tidak mengherankan dalam membangun angkatan perang yang tangguh sebagai kemampuan penangkal dan penggempur, berupaya memodernisasi berbagai pesawat tempur dengan generasi mutakhir. Tambah Kasau.

    Menurut Kasau, Pembangunan kekuatan udara nasional dengan kebijakan dan strategi TNI Angkatan Udara difokuskan untuk mewujudkan kekuatan udara agar dapat menguasai, mempertahankan dan mendayagunakan ruang udara, kita harus memahami bahwa kekuatan udara tersebut tidak terbatas pada aset yang dimiliki oleh Angkatan Udara. Kekuatan itu, harus melibatkan seluruh potensi nasional aspek dirgantara secara optimal, baik pada masa perang maupun masa damai. Sinerjitas potensi demikian dapat menjadi modal dasar aeropolitik bangsa Indonesia yang melekat pada Wawasan Nusantara.

    Dalam situasi demikian tambahnya, Angkatan Udara tetap mengupayakan seoptimal mungkin pembangunan kekuatannya dengan cara mempertahankan kesiapan alutsista serta kesiapan personel yang mengawakinya. Panggilan perjuangan ini lebih didasarkan kepada situasi dan kondisi apapun, tetap dibutuhkan tingkat minimum kesiapan operasional guna menjaga kepentingan nasional.

      Beberapa permasalahan yang perlu kita ketahui bersama, berkaitan dengan pembangunan kekuatan udara nasional lebih ditandai dengan adanya keterbatasan anggaran, ketergantungan pada luar negeri dan faktor pertimbangan politik. Sebagaimana diketahui bahwa di negara manapun di dunia ini kekuatan udara selalu membutuhkan biaya yang sangat besar, baik dalam pengadaan alutsista, kebutuhan suku cadang dan perawatannya, maupun dalam upaya penyiapan SDM yang mengawakinya. Selain itu, Angkatan Udara menyadari bahwa seluruh kekuatan yang kita miliki tergantung dari luar negeri, yang memerlukan devisa negara cukup besar. Tegas Kasau.

    Kasau menjelaskan, kebijakan membangun dan mewujudkan konsep kekuatan udara nasional menjadi kekuatan dan kemampuan nyata, dipandang perlu mendapat dukungan bersama untuk menata dan memantapkan kembali konsepsi pembinaan dan pengembangan sistem, doktrin, struktur kekuatan dan peralatan, organisasi pengelola, sumber daya manusia, latihan, mobilisasi serta kesiapsiagaan. Namun dalam penyusunan konsep tersebut tetap berorientasi kepada kepentingan dan tujuan nasional, serta diupayakan melalui kemandirian bangsa.

       Sebagai suatu sistem, pertahanan matra udara merupakan bagian atau sub-sistem dari sistem pertahanan negara yang menggunakan media udara dan antariksa sebagai kawasan yudha dan ruang geraknya. Dalam Sishanneg, penggunaan media udara dan antariksa akan memberikan berbagai keuntungan yang dapat dimanfaatkan dari ciri khas sistem senjata udara yaitu kecepatan, mobilitas, kekenyalan, cepat tanggap, daya penghancur serta ciri khas lainnya. Dengan ciri khas tersebut, sistem senjata udara mampu menembus rintangan alamiah untuk mencapai sasaran serta dengan cepat memberikan pukulan yang menentukan terhadap lawan.

      Postur TNI Angkatan Udara yang dikenal dengan Minimum Essential Force (MEF) kedepan pada hakekatnya merupakan wujud dari organisasi, kemampuan dan kekuatan TNI AU. Untuk mewujudkan postur TNI AU tersebut, diperlukan pertimbangan yang melandasinya baik bersifat strategis konsepsional bertujuan kepentingan nasional NKRI maupun pertimbangan realitas aktual kondisi TNI AU saat ini serta kemampuan sumber daya nasional dalam mendukung pembangunan postur tersebut. Tegasnya.

     Kasau Menambahkan, terkait dengan keberadaan FKPPI yang merupakan salah satu organisasi massa di Indonesia, saya berharap seluruh anggota FKPPI harus mengetahui tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita untuk selanjutnya mampu berperan mengambil bagian dalam mengatasinya.

      Sebagai generasi penerus yang lahir dari proses sejarah bangsa, FKPPI harus menekankan sikap profesionalisme dalam setiap bidang yang dipahami dan tidak setengah-setengah sehingga mampu melaksanakan tugas sesuai bidangnya dengan benar, baik dan cepat. Tambanya.

      Mencermati situasi dan kondisi nasional khususnya dalam penentuan regenerasi bangsa tahun 2014, generasi muda FKPPI diharapkan harus mampu mengimplementasikan makna loyalitas yang sebenarnya. Jika waktu untuk berfikir, berdiskusi dan berbuat, maka laksanakan dengan benar dan santun. Manakala keputusan telah disepakati bersama, untuk itu harus didukung dan dilaksanakan keputusan tersebut. Jelasnya.

     Indonesia adalah sebuah negara yang besar, dari aspek keamanan relatif aman dan secara ekonomi telah berhasil karena dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi 6 % ini merupakan suatu prestasi mengingat hanya sedikit negara yang mampu mencapainya. Oleh karena itu generasi muda FKPPI harus berimbang dalam melihat fakta di lapangan antara yang berhasil dan tidak berhasil. Negara dan bangsa saat ini membutuhkan generasi muda yang mampu menyelesaikan masalah/problem solving, bukan pembuat masalah. Tambahnya.

     Dalam akhir ceramahnya Kasau menyampaikan salah satu pesan kepada segenap Generasi Muda FKPPI dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, harus dapat bertindak sebagai patriot sehingga FKPPI memiliki kewajiban moral untuk senantiasa berada di depan dalam menjaga dan mengimplementasikan empat pilar kehidupan bernegara yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

     Diakhir acara, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI I. B. Putu Dunia juga menyerahkan Piagam Penghargaan kepada siswa tebaik Kader Organisasi Tingkat Purna (Tarkorna) Angkatan XIII Generasi Muda FKPII diantaranya Siswa terbaik Pertama Fendi dari Wilayah Jawa Timur, terbaik Kedua Daul dari perwakilan Wilayah Papua dan Terbaik ketiga Noorlatifah dari wilayah Kalimantan Selatan.