Pusdiklat

KEDUDUKAN

Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khas disingkat Pusdiklat Paskhas adalah satuan pelaksana Korpaskhas dalam bidang pendidikan dan pelatihan,  berkedudukan langsung di bawah Dankorpaskhas.

TUGAS

Pusdiklat Paskhas bertugas melaksanakan pembinaan kemampuan Paskhas melalui penyelenggaraan pendidikan kualifikasi khusus,latihan, penelitian, pengujian serta pengembangan taktik dan prosedur Korpaskhas untuk melaksanakan tugas  pertahanan pangkalan/alutsista/instalasi TNI Angkatan Udara, pengendalian pangkalan udara depan, pengendalian tempur, SAR tempur serta operasi-operasi lain sesuai dengan kebijakan Panglima TNI.

SEJARAH

Embrio Pusdiklat Paskhas tidak terlepas dari proses Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhas) secara umum cikal bakalnya dari Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) saat penjajahan Jepang di Indonesia. TNI AU sendiri cikal bakalnya dari Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) yang merupakan bagian dari Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Dengan adanya perubahan dan penyempurnaan organisasi BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), maka BKRO juga menjadi TKR Oedara (TKRO) yang saat itu dikenal dengan nama TKR Jawatan Penerbangan. Dalam perkembangan waktu terjadi perubahan TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tanggal 25 Januari 1946, maka TKRO juga menjadi TRI Oedara (TRIO).  Pada tanggal 9 April 1946 TRIO atau TRI Jawatan Penerbangan kemudian disahkan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 tentang pengesahan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang kemudian dikenal sampai sekarang dengan nama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), sejajar dengan TNI AD dan TNI AL.

Konsolidasi organisasi, BKRO membentuk Organisasi Darat yaitu Pasukan Pertahanan Pang-kalan (PPP). PPP dibutuhkan untuk melindungi Pangkalan-Pangkalan Udara.  PPP saat itu masih bersifat lokal yang di-bentuk di Pangkalan-Pangkalan udara seperti Lanud  Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Mojoagung (Surabaya), Panasan (Solo), Maguwo (Yogyakarta), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang), Pameungpeuk (Garut) dan Pangkalan-pangkalan udara diluar pulau Jawa seperti Talang Betutu (Palembang), Tabing (Padang) dan lain-lain.

PPP sangat berperan pada saat Agresi Militer I dan Agresi Militer II, saat itu hampir seluruh Pangkalan Udara mendapat serangan dari Tentara Belanda, baik dari darat maupun udara.  Serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Belanda terhadap Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta dengan menerjunkan pasukan payung pada tanggal 19 Desember 1948. PPP bersama kekuatan udara di Pangkalan berusaha mempertahankan Pangkalan sampai titik darah penghabisan.   Begitu pula di Pangkalan Udara lainnya yang mendapat serangan dari Belanda.

Pasukan Pertahanan Pangkalan merupakan cikal bakal dari pasukan payung, pada tanggal 11 Pebruari 1946 telah melakukan latihan penerjunan yang pertama kali di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta dengan menggunakan payung jenis PD 47 dengan pesawat Cureng peninggalan Jepang dalam rangka persiapan melaksanakan operasi penerjunan. Pasukan Payung ini kemudian diterjunkan di Sambi Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947, selanjutnya berdasarkan Skep Men/Pangau Nomor 54 tahun 1967 tanggal 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai Hari Jadi Pasukan TNI Angkatan Udara yang sekarang dikenal dengan nama Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara.

Pada tahun 1950 Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP berpusat di Jakarta dengan sebutan Air Base Defence Troop (ABDT) yang membawahi 8 Kompi dan dipimpin oleh Kapten Udara R.A. Wiriadinata dengan wakilnya Letnan Udara I.R. Soeprantijo. Kemudian pada pertengahan tahun 1950 dibentuk Inspektorat Pasukan Pertahanan Pangkalan yang disebut dengan IPP yang bermarkas dijalan Sabang Jakarta, selanjutnya pada bulan April 1952 dipindahkan ke Pangkalan Udara Cililitan Jakarta Timur.

Pada tahun 1950 dibuka Sekolah Terjun payung (Sekolah Para) angkatan pertama diikuti oleh para prajurit dalam rangka pembentukan Pasukan PARA AURI.     Selanjutnya Sekolah PARA dibuka di Pangkalan Udara Andir Bandung sebagai kelanjutan dari embrio Sekolah Para di Maguwo.   Hasil didik dari sekolah PARA inilah yang kemudian disusun dalam Kompi-Kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dibentuk pada bulan Februari 1952 dengan Kapten Udara R.A. Wiriadinata sebagai Komandannya merangkap sebagai Komandan Pangkalan Udara Andir di Bandung.

Pada tahun 1950-an pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara) yang kekuatannya terdiri dari 11 Kompi Berdiri Sendiri (BS), 8 Pleton BS dan 1 Baterai PSU. Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1958 situasi politik dan keamanan dalam negeri semakin memburuk karena munculnya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Sumatera dan Sulawesi Utara yang mengatasnamakan Dewan Gajah, Dewan Banteng, Dewan Garuda, PRRI dan Permesta.   PGT bersama satuan tempur TNI lainnya juga ditugaskan dalam rangka penumpasan pemberontak tersebut dalam berbagai Operasi seperti Operasi Tegas, Operasi Sapta Marga, Operasi 17 Agustus dan Operasi Merdeka.

Pada tahun 1960-an PGT juga ditugaskan dalam operasi pem-bebasan Irian Barat (Papua) yang berdasarkan perintah Men/Pangau maka dibentuklah Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP PGT) yang bermarkas di Bandung dan Kapten Udara Soegiri Soekani sebagai Komandannya.  RTP PGT membawahi 2 Batalyon PGT yaitu Batalyon A PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Z. Rachiman dan Batalyon B PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara J.O. Palendeng.

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor: 195 dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya Komodor Udara R.A Wiriadinata.   KOPPAU terdiri dari Markas Komando berkedudukan di Bandung.

Resimen PPP membawahi 5 Batalyon yang berkedudukan di jakarta, Banjarmasin, Makassar, Biak dan Palembang (kemudian pindah ke Medan).   Resimen PGT terdiri dari 3 Batalyon yaitu Batalyon I PGT  (Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakra Bhirawa)  berkedudukan di Bogor.

Batalyon II PGT di Jakarta dan Batalyon III PGT di Bandung.Berdasarkan Surat Keputusan Men/Pangau Nomor: III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor Udara R.A. Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun.   Kemudian pada tahun 1964 digantikan Komodor Udara Ramli Sumardi sampai tahun 1966. Pada tanggal 11 s.d 16 April 1966 diadakan seminar Pasukan di Bandung berdasarkan hasil dari seminar tersebut dan sesuai dengan Keputusan Men/pangau Nomor 45 tahun 1966 tanggal 17 Mei 1966 KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (KOPASGAT) yang terdiri dari 3 Resimen, yaitu:

a.    Resimen I Pasgat bermarkas di Bandung membawahi:

-     Yon A Pasgat di Bogor.

-     Yon B Pasgat di Bandung.

b.   Resimen II Pasgat bermarkas di Jakarta,membawahi:

-     Yon A Pasgat di Jakarta.

-     Yon B Pasgat di Jakarta.

-     Yon C Pasgat di Medan.

-     Yon D Pasgat di Banjarmasin.

c.   Resimen III Pasgat bermarkas di Surabaya,membawahi:

-    Yon A Pasgat di Makassar

-    Yon B Pasgat di Madiun

-    Yon C Pasgat di Surabaya

-    Yon D Pasgat di Biak

-    Yon E Pasgat di Yogyakarta

Selanjutnya berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI AU/Kasau Nomor : 57 tahun 1970 tanggal 1 Juli 1970, sebutan Resimen diganti menjadi Wing.   Dengan demikian Resimen I Pasgat menjadi Wing I Pasgat, Resimen II Pasgat menjadi Wing II Pasgat dan Resimen III Pasgat menjadi Wing III Pasgat.Berdasarkan Surat Kepu-tusan Kasau tersebut sebutan Panglima diubah menjadi Komandan Jenderal (Danjen).  Saat itu Komandan Kopasgat adalah Kolonel Udara Soetoro, sehingga sebutannya menjadi Danjen Kopasgat. Pada tahun 1976, berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep / 29 / VI / 1976 tanggal 21 Juni 1976, Resimen II Pasgat menjadi Wing II Pasgat dan Resimen III Pasgat Menjadi Wing III Pasgat.

Pada tahun 1976, berdasarkan keputusan Kasau Nomor : Kep/ 29/VI/1976 tanggal 21 Juni 1976, TNI AU membentuk Komando Paduan Tempur Udara (Kopatdara) sebagai realisasi Keputusan Menhankam /Pangab Nomor : Kep/14/IV/1976.    Dalam organisasi Kopatdara ini secara tetap disusun I Batalyon Pasgat status Bawah komando Operasi (BKO) yaitu YON I Pasgat dengan Komandan Mayor Pas Affendi berkedudukan di Jakarta yang terdiri dari 3 Kompi Tempur (Kipur) dengan unsur-unsur antara  lain:

a. Gugus Pengendali Tempur (Gus Dalpur).

b. Gugus Pengendali Pangkalan (Gus Dallan).

c. Gugus Para Rescue Tempur (Gus Para Rescue).

Satuan Taktis (Sat Tis) Pasgat yang berkedudukan di Lanuma Husein Sastra Negara Bandung dengan Komandan Mayor Psk Surasmo dan Batalyon Kopasgat (Batalyon II Kopasgat) berkedudukan di Jakarta dengan Komandan Mayor Psk Budi Sutrisno.

Disamping itu untuk luar Jakarta Batalyon III Kopasgat berkedudukan di Pangkalan Udara Iswahyudi Madiun dan Batalyon IV Kopasgat berke-dudukan di Surabaya pindah ke Lanuma Abdurahman Saleh di Malang.

Anggota-anggota dari ketiga unsur pasukan (Kopat-dara, Satuan taktis Pasgat dan Kopasgat) tersebut inilah yang nantinya akan menjadi embrio pelaku-pelaku sejarah berdiri-nya Satuan Pendidikan di Korpaskhas, yaitu Wing III Paskhas.

Hari kelahiran merupakan waktu yang dianggap sangat sakral dan bernilai historis, Begitu pula bagi instansi atau satuan-satuan di jajaran TNI, hari kelahiran juga dianggap sangat sakral dan bernilai historis.   Oleh karena itu sering setiap Instansi atau Satuan tersebut selalu mengadakan syukuran hari kelahiran atau Hari Ulang Tahun (HUT) pada setiap tahunnya.

Pusdiklat Paskhas sebagai salah satu satuan TNI Jajaran Korpaskhas, keberadaanya tidak terlepas dari adanya peristiwa “Kelahiran”.   Banyak generasi penerus yang belum mengetahui tentang adanya satuan mereka berdinas dari kelahirannya sampai dengan saat ini dan tidak sedikit anggota yang menanyakan ”Kapan sih lahirnya satuan saya ini...? dan bagaimana prosesnya bisa sampai menjadi besar...?” pertanyaan itu tidak hanya timbul pada satu anggota saja, namun kebanyakan menanyakan begitu.   Untuk itu benar kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang” maksudnya kenali dirimu dan satuanmu nanti akan timbul rasa memiliki dan rasa bangga terhadap satuan.   Untuk itu akan diuraikan tentang Sejarah Lahirnya Pusdiklat Paskhas yang saat ini dikenal.

Keberadaan Pusdiklat Paskhas, kelahirannya tidak terlepas dari peristiwa heroik dan historik seperti penerjunan 13 orang Pasukan Payung di Sambi Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947 yang kemudian ditetapkan sebagai “Hari Jadi Korpaskhas” atau didasarkan pada ketetapan atau keputusan pimpinan yang dinyatakan dengan suatu penetapan atau Surat Keputusan seperti Penetapan Presiden RI. Penetapan Pemerintah Nomor : 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 tentang pengesahan Tentara Republik Indonesia jawatan penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang sekarang dikenal dengan sebutan TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Kelahiran TNI AU atau Hari Jadi TNI AU dan lain-lain.Khusus untuk menyatakan hari kelahiran Wing III Paskhas nampaknya para sesepuh dulu menetapkan berdasarkan pada jenis yang kedua yaitu berdasarkan ketetapan atau keputusan pimpinan (TNI AU) saat itu.   Sebab secara resmi satuan tersebut dinyatakan ada atau berdiri yaitu setelah adanya likuidasi dari tiga satuan yaitu Kopatdara, Sat Tis Pasgat dan Kopasgat.

Sejalan dengan perkembangan sejarah perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan-nya, tidak terlepas dari momen peristiwa sejarah yang sangat penting.   Pertumbuhan dan perkembangan Iptek yang semakin membawa ke arah lebih baik dengan berbagai kemajuan, berpengaruh pada perubahan organisasi, khususnya pada Pusdiklat Paskhas dengan melalui beberapa periode.

Berdasarkan seminar Pasukan di Bandung pada tanggal 11 sampai dengan 16  April 1966, sesuai Keputusan Men/Pangau Nomor : Skep/45/V/1966 tanggal 17 Mei 1966, KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) sekarang Korpaskhas yang terdiri dari 3 Resimen di Bandung, Jakarta dan Surabaya serta pada periode ini dibentuk pula Batalyon latihan khusus (sekarang Wing III Paskhas) yang berkedudukan di Lanud Soegiri Soekani Jatiwangi.   Pendidikan yang pernah dilaksanakan adalah Pendidikan Komando dengan Komandan Batalyon latihan khusus (sekarang Wing III Paskhas) Lettu Soewargono, Batalyon latihan khusus berlangsung sampai dengan 1976.

Berdasarkan Surat Keputusan Kasau nomor: Skep/19/V/1977 tanggal 27 Mei 1977 dibentuklah Depo Latihan Pasgat yang berkedudukan di Lanuma Husein Sastra Negara dan kemudian pindah ke Lanuma Sulaiman Bandung.Berdasarkan Skep Kasau tersebut kemudian dijadikan sebagai hari jadi kelahiran Depo Latihan Pasgat (sekarang hari Kelahiran Pusdiklat Paskhas atau Hari Jadi Pusdiklat Paskhas).Untuk itu pada setiap tanggal 27 Mei pada setiap  tahunnya sudah sepatutnya diperingati  sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan memohon ke-selamatan dalam me-ngemban tugas dimasa mendatang.

Perubahan dan per-gantian nama yang terjadi pada satuan ini tidak terlepas dari sejarah perkembangan kemajuan zaman serta pemekaran  Korpaskhas. Adanya perubahan situasi dan tuntutan tugas serta organisasi, perubahan nama didasarkan pada kebijakan pimpinan melalui Ketetapan atau Keputusan yang disampaikan secara resmi.Untuk nama satuan juga mengalami perubahan dari PPP, PGT dan PSU berubah menjadi KOPPAU kemudian berubah lagi menjadi Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Tjepat) yang disahkan berdasarkan Surat Keputusan Men/Pangau Nomor: 45 tahun 1966 tanggal 11 Mei 1966, lalu Kopasgat berubah menjadi Puspaskhasau (Pusat Pasukan Khas Angkatan Udara).

Pada tahun 1985 berdasarkan keputusan Kasau Nomor: Kep/22/III/1985 tanggal 11 Maret 1985. Berdasarkan Keputusan Kasau di atas Paskhasau yag terdiri dari Mapus (Markas Pusat) Paskhasau dan satu Depodiklat Paskhas (Depo Pendidikan dan Latihan Paskhas), dengan satuan-satuan pelaksana yakni 6 Skadron Paskhas, 4 Flight  Paskhas BS berada dibawah Koopsau I dan II.Sebutan Danjen berubah menjadi Danpus.Puspaskhasau berubah menjadi Korpaskhas pada tahun 1997 berdasarkan Keputusan Pangab nomor: Skep/09/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997. Status Depodiklat Paskhas berubah menjadi Wing III Diklat Paskhas sesuai dengan Keputusan Pangab tersebut.

Status Korpaskhas ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat menjadi KOTAMABIN.  Berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/73/III/1999 tanggal 24 Maret 1999 Korpaskhas membawahi Wing I Paskhas, Wing II Paskhas, Wing III Paskhas, Den Bravo dan Den Walkol.   Pada periode tahun 1999 terjadi perubahan nama sesuai dengan Surat Keputusan Kasau nomor: Skep/5/III/1999  tanggal 16 Maret 1999 nama Depodiklat berubah menjadi Wing III Paskhas, didalam pelaksanaannya Wing III Paskhas di bantu oleh beberapa Satdik diantaranya Satdik 01 Komando, Satdik 02 Lanjut dan Satdik 03 Khusus.

Berdasarkan Peraturan Kasau Nomor: Perkasau/53/VIII/2008 tanggal 13 Agustus 2008 tentang Penyempurnaan Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur Korpaskhas dan Jajarannya, Wing III Paskhas mengalami perubahan struktur organisasi dengan diikuti perubahan sebutan Satuan Pendidikan yaitu Satuan Pendidikan Matra/PSU, Satuan Pendidikan Tempur Darat dan Satuan Pendidikan Khusus.